Sabtu, 29 Desember 2012

EVALUASI ALTERNATIF


Evaluasi alternatif merupakan suatu proses dimana suatu alternatif pilihan dievaluasi dan dipilih oleh konsumen. Pada tahap evaluasi konsumen harus:1). Menentukan kriteria yang akan digunakan untuk menilai alternatif,2). Memutuskan alternatif mana yang akan dipertimbangkan,3). Menilai kinerja dan alternatif yang dipertimbangkan dan4). Memilih dan menerapkan kaidah keputusan untuk membuat pilihan akhir. Philip kotler mengemukakan, “Konsumen mempelajari merek-merek yang tersedia dan ciri-cirinya. Informasi ini digunakan untuk mengevaluasi semua alternatif yang ada dalam menentukan keputusan pembeliannya”(1998:170).Menurut Sutisna, “Setidak-tidaknya ada dua kriteria evaluasi alternatif. Pertama adalah manfaat yang diperoleh dengan membeli produk. Kedua, kepuasan yang diharapkan”(2001:22).Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, ketika berbagai alternatif telah diperoleh, konsumen melakukan evaluasi alternatif. Evaluasi altenatif tersebut, dalam keberadaanya ditentukan oleh keterlibatan konsumen dengan produk yang akan dibelinya.Alternatif membeli atau tidak membeli produk (merk) tertentu, dipengaruhi oleh pertimbangan atribut produk. Yaitu meliputi: manfaat, kepentingan, image, dan fungsi yang diharapkan. Pertimbangan tersebut seringkali diperbandingan antara manfaat yang akan diperoleh dengan biaya yang akan dikeluarkan untuk memperoleh atau setelah membeli barang tersebut. Mempertimbangkan untuk membeli mobil kedua adalah pilihan antara keleluasaan pemakaian dan tambahan investasi maupun biaya perawatan.Kriteria yang digunakan konsumen selama pengambilan keputusan akan tergantung pada beberapa faktor, diantaranya: 1) Pengaruh situasi,2) Kesamaan alternatif-alternatif pilihan,3) Motivasi,4) Keterlibatan,5) Pengetahuan

http://gultomhans.wordpress.com/2012/11/11/evaluasi-alternatif-sebelum-pembelian/

Rabu, 05 Desember 2012

Gaya Hidup


Istilah gaya hidup (lifestyle) sekarang ini kabur. Sementara istilah ini memiliki arti
sosiologis yang lebih terbatas dengan merujuk pada gaya hidup yang khas dari berbagai
kelompok status tertentu, dalam budaya konsumen kontemporer istilah ini
mengkonotasikan individualitas, ekspresi diri, serta kesadaran diri yang semu. Tubuh,
busana, bicara, hiburan saat waktu luang, pilihan makanan dan minuman, rumah,
kendaraan, dan pilihan hiburan, dan seterusnya di pandang sebagai indikator dari
individualitas selera serta rasa gaya dari pemilik atau konsumen

KEPRIBADIAN


personality berasal dari kata latin “persona” yang berarti topeng atau kedok, yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak, atau pribadi seseorang. Bagi bangsa Roma, “persona” berarti bagaimana seseorang tampak pada orang lain.

Menurut Agus Sujanto dkk (2004), menyatakan bahwa kepribadian adalah suatu totalitas psikofisis yang kompleks dari individu, sehingga nampak dalam tingkah lakunya yang unik.

Pengertian Kepribadian (Personality)

Sedangkan personality menurut Kartini Kartono dan Dali Gulo dalam Sjarkawim (2006) adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain; integrasi karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah laku, minat, pendiriran, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang; segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana diketahui oleh orang lain.
Allport juga mendefinisikan personality sebagai susunan sistem-sistem psikofisik yang dinamis dalam diri individu, yang menentukan penyesuaian yang unik terhadap lingkungan. Sistem psikofisik yang dimaksud Allport meliputi kebiasaan, sikap, nilai, keyakinan, keadaan emosional, perasaan dan motif yang bersifat psikologis tetapi mempunyai dasar fisik dalam kelenjar, saraf, dan keadaan fisik anak secara umum.

http://belajarpsikologi.com/pengertian-kepribadian/

KONSEP DIRI

 Pengertian Konsep Diri
Konsep diri merupakan konsep dasar yang perlu diketahui perawat untuk mengerti perilaku dan pandangan klien terhadap dirinya, masalahnya sertalingkungannya. Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus dapat meyakinibahwa klien adalah mahluk bio-psiko-sosio-spiritual yang uth dan unik sebagai satukesatuan dalam berinteraksi terhadap lingkungannya yang diperoleh melalui pengalamanyang unik dengan dirinya sendiri dan orang lain.Konsep diri juga merupakan ide, pikiran, perasaan, kepercayaan dan pendirianyang diketahui oleh individu dalam berhubungan dengan orang lain. Konsep diriberkembang secara bertahap dimulai dari bayi dapat mengenali dan membedakan oranglain. Proses yang berkesinambungan dari perkembangan konsep diri diluspengaruhi olehpengalaman interpersonal dal kultural yang memberikan perasaan positif, memahamikompetensi pada area yang bernilai bagi individu dan dipelajari melalui akumulasikontak-kontak sosial dan pengalaman dengan orang lain. Dalam merencanakan asuhankeperawatan yang berkualitas perawat dapat menganalisis respon individu terhadapstimulus atau stesor dari berbagai komponen konsep diri yaitu citra tubuh, idea diri, hargadiri, identitas dan peran. Dalam memberikan asuhan keperawatan ada lima prinsip yangharus diperhatikan yaitu memperluas kesadaran diri, mengagali sumber-sumber diri,menetapkan tujuan yang realistik serta bertanggung jawab terhadap tindakan.

(Suliswati,dkk,2005)Menurut para ahli :1. Stuart & Sundeen,1998 Konsep diri merupakan suatu pikiran, keyakinan, dankepercayaan yang membuat seseorang mengetahui siapa dirinya dan memengaruhihubungannya dengan orang lain.2. Sunaryo, 2004 Konsep diri merupakan Cara individu melihat pribadinya secarautuh,menyangkut aspek fisik,emosi, intelektual,sosial dan spritual, termasuk didalamnya persepsi individu tentang sifat dan potensi yang dimilikinya, interaksinyadengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman danobjek tertentu, serta tujuan, harapan, dan keinginan individu itu sendiri

http://www.scribd.com/doc/98046816/MAKALAH-KONSEP-DIRI
 3

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Konsep Diri

Konsep diri merupakan konsep dasar yang perlu diketahui perawat untuk mengerti perilaku dan pandangan klien terhadap dirinya, masalahnya sertalingkungannya. Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus dapat meyakinibahwa klien adalah mahluk bio-psiko-sosio-spiritual yang uth dan unik sebagai satukesatuan dalam berinteraksi terhadap lingkungannya yang diperoleh melalui pengalamanyang unik dengan dirinya sendiri dan orang lain.Konsep diri juga merupakan ide, pikiran, perasaan, kepercayaan dan pendirianyang diketahui oleh individu dalam berhubungan dengan orang lain. Konsep diriberkembang secara bertahap dimulai dari bayi dapat mengenali dan membedakan oranglain. Proses yang berkesinambungan dari perkembangan konsep diri diluspengaruhi olehpengalaman interpersonal dal kultural yang memberikan perasaan positif, memahamikompetensi pada area yang bernilai bagi individu dan dipelajari melalui akumulasikontak-kontak sosial dan pengalaman dengan orang lain. Dalam merencanakan asuhankeperawatan yang berkualitas perawat dapat menganalisis respon individu terhadapstimulus atau stesor dari berbagai komponen konsep diri yaitu citra tubuh, idea diri, hargadiri, identitas dan peran. Dalam memberikan asuhan keperawatan ada lima prinsip yangharus diperhatikan yaitu memperluas kesadaran diri, mengagali sumber-sumber diri,menetapkan tujuan yang realistik serta bertanggung jawab terhadap tindakan.


(Suliswati,dkk,2005)Menurut para ahli :1. Stuart & Sundeen,1998 Konsep diri merupakan suatu pikiran, keyakinan, dankepercayaan yang membuat seseorang mengetahui siapa dirinya dan memengaruhihubungannya dengan orang lain.2. Sunaryo, 2004 Konsep diri merupakan Cara individu melihat pribadinya secarautuh,menyangkut aspek fisik,emosi, intelektual,sosial dan spritual, termasuk didalamnya persepsi individu tentang sifat dan potensi yang dimilikinya, interaksinyadengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman danobjek tertentu, serta tujuan, harapan, dan keinginan individu itu sendiri

MOTIVASI


Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Tiga elemen utama dalam definisi ini adalah intensitas, arah, dan ketekunan.
Berdasarkan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow, teori X dan Y Douglas McGregor maupun teori motivasi kontemporer, arti motivasi adalah alasan yang mendasari sebuah perbuatan yang dilakukan oleh seorang individu. Seseorang dikatakan memiliki motivasi tinggi dapat diartikan orang tersebut memiliki alasan yang sangat kuat untuk mencapai apa yang diinginkannya dengan mengerjakan pekerjaannya yang sekarang. Berbeda dengan motivasi dalam pengertian yang berkembang di masyarakat yang seringkali disamakan dengan semangat, seperti contoh dalam percakapan "saya ingin anak saya memiliki motivasi yang tinggi". Statemen ini bisa diartikan orang tua tersebut menginginkan anaknya memiliki semangat belajar yang tinggi. Maka, perlu dipahami bahwa ada perbedaan penggunaan istilah motivasi di masyarakat. Ada yang mengartikan motivasi sebagai sebuah alasan, dan ada juga yang mengartikan motivasi sama dengan semangat.
Dalam hubungan antara motivasi dan intensitas, intensitas terkait dengan seberapa giat seseorang berusaha, tetapi intensitas tinggi tidak menghasilkan prestasi kerja yang memuaskan kecuali upaya tersebut dikaitkan dengan arah yang menguntungkan organisasi. Sebaliknya elemen yang terakhir, ketekunan, merupakan ukuran mengenai berapa lama seseorang dapat mempertahankan usahanya

http://id.wikipedia.org/wiki/Motivasi.

SIKAP


Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau obyek (Soekidjo N, 2003). Newcomb dalam Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi adalah merupakan “pre-disposisi” tindakan atau perilaku. Sikap masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka.

Sikap adalah suatu bentuk evaluasi / reaksi terhadap suatu obyek, memihak / tidak memihak yang merupakan keteraturan tertentu dalam hal perasaan  (afeksi), pemikiran  (kognisi) dan predisposisi tindakan  (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya (Saifudin A, 2005). 


Komponen Sikap

Menurut Azwar (2005), komponen-komponen sikap adalah :
1  Kognitif 
Kognitif terbentuk dari pengetahuan dan informasi yang diterima yang selanjutnya diproses menghasilkan suatu keputusan untuk bertindak.
2  Afektif
Menyangkut masalah emosional subyektif sosial terhadap suatu obyek, secara umum  komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap suatu obyek.
3  Konatif
Menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam  diri seseorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapinya.

Tingkatan Sikap   
Berbagai tingkatan menurut Notoatmodjo (2003) tediri dari : 

1  Menerima (Receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek).
2  Merespon (Responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan sesuatu dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
3  Menghargai (Valuting)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan/mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap.
4  Bertanggung jawab (Responsile)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi.

Macam Sikap 
Menurut Heri Purwanto (1998) 

1  Sikap Positif, kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi dan mengharapkan obyek tertentu. 

2  Sikap negatif, terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindari, membenci dan tidak menyukai obyek tertentu.




Soekidjo, Notoatmodjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Saifudin, Azwar. 2005. Sikap Manusia. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Heri, Purwanto. 1998. Pengantar Perilaku Manusia Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.

Sumber Daya Ekonomi



Potensi sumberdaya ekonomi atau lebih dikenal dengan potensi ekonomi pada dasarnya dapat diartikan sebagai sesuatu atau segala sesuatu sumberdaya yang dimiliki baik yang tergolong pada sumberdaya alam (natural resources/endowment factors) maupun potensi sumberdaya manusia yang dapat memberikan manfaat (benefit) serta dapat digunakan sebagai modal dasar pembangunan (ekonomi) wilayahtingkat ketergantungan terhadap sumberdaya secara struktural harus bisa dialihkan pada sumberdaya alam lain.

Kasus persolan yang sifatnya nasional (warisan rejim lama) dan juga persoalan-persoalan baru yang muncul dari pelaksanaan Otonomi Daerah yang “sembrono”, fenomena globalisasi ekonomi juga akan sangat berpengaruh besar terhadap prospek nilai-nilai budaya lokal dan kearifan tradisional sebagai landasan penguatan kelembagaan lokal dalam pengelolaan sumberdaya dan keanekaragaman hayati.

Globalisasi ini menjadi perlu dicermati sebagai tahapan lanjut dari periode pembangunanisme yang dianut oleh Rejim Otoriter-Militeristik Orde Baru yang nyata-nyata telah menghancur-leburkan ekosistem-ekosistem penting Indonesia serta memporak-porandakan pranata-pranata ada/lokal yang selama ratusan tahun menjadi penjaga dan pengelola sebagian besar dari ekosistem-ekosistem tersebut. Perjalanan pembangunan di Indonesia mencatat banyak sekali penggusuran dan penindasan yang menyedihkan bagi berbagai kelompok masyarakat, khususnya masyarakat adat, yang diwarnai oleh tindakan-tindakan kekerasan negara dan sekaligus memfasilitasi kekerasan horizontal antar kelompok masyarakat.

Kalau ditelusuri lebih jauh, maka pembangunan yang umumnya dianut oleh negara-negara berkembang adalah industrialisasi. Sebagai negara yang kaya sumber daya alam, Indonesia pun mengembangkan industri yang berbasis sumber daya alam. Celakanya, sebagian besar sumber daya lalam ini, secara tradisional sudah ada penguasa dan pemiliknya, yaitu masyarakat adat, yang juga memiliki kepentingan yang lebih luas atas sumber daya tersebut. Nilai-nilai, ide dan konsep pembangunan itu memang diimpor atau diadopsi dari “barat”. Pembangunan adalah kata lain dari modernisasi. Dari sini muncullah anggapan dan keyakinan baru di masyarakat bahwa jiwa Indonesia ini kita inginkan menjadi negara modren,maka segala sesuatu yang tradisional(lisan) harus dibuang karena dianggap terbelakang dan menghambat pembangunan. Paradigma modernisasi demikian, langsung dan tidak langsung, telah menyudutkan dan melemahkan posisi masyarakat adat itu sendiri dengan menempatkan tradisi dan nilai-nilai asli bangsa ini menjadi sesuatu yang jelek (inferior) terhadap nilai-nilai “barat” yang modern sebagai sesuatu yang baik (superior).

Dengan cara yang berkembang demikian, bahkan banyak di antara masyarakat adat sendiri sering melupakan bahwa mereka memiliki kekuatan (pengetahuan, teknologi, pranata adat) untuk melaksanakan dengan sungguh-sungguh program “pembangunan” yang memuliakan hidup mereka, atau sebaliknya melakukan perlawanan atas program “pembangunan” yang tidak diinginkan. Sebagai konsep yang diadopsi dari “barat”, nilai yang terkandung dalam pembangunan kita, yang juga dianut oleh globalisasi ekonomi, berakar pada individualisme yang, dalam banyak hal, bertolak-belakang dari prinsip dasar komunitas-komunitas masyarakat adat di Indonesia umumnya yang komunalistik dan kolektif baik dalam hal penguasaan sumberdaya maupun dalam upaya pengelolaannya untuk keadilan dan kesejahteraan bersama.



http://setevy.wordpress.com/2011/11/03/sumber-daya-konsumen-dan-pengetahuan/