Rabu, 16 Januari 2013

KEPUTUSAN PEMBELIAN


Keputusan   pembelian  merupakan kegiatan  individu  yang  secara langsung terlibat dalam pengambilan  keputusan untuk melakukan pembelian terhadap  produk yang ditawarkan  oleh penjual. Pengertian keputusan  pembelian, menurut Kotler & Armstrong (2001: 226) adalah tahap dalam proses pengambilan keputusan pembeli di mana konsumen benar-benar membeli. Pengambilan keputusan  merupakan suatu
 kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang yang ditawarkan.
 Keputusan pembelian menurut Schiffman, Kanuk (2004, p.547) adalah pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian, artinya bahwa seseorang  dapat  membuat keputusan, haruslah  tersedia beberapa alternatif pilihan.
Ada tiga aktivitas  yang  berlangsung  dalam  proses  keputusan  pembelian oleh konsumen yaitu ( Hahn, 2002 : 69 ) :
a. Rutinitas konsumen dalam melakukan pembelian.
b. Kualitas yang diperoleh dari suatu keputusan pembelian.
c. Komitmen atau loyalitas konsumen yang sudah biasa beli dengan produk pesaing.
     
 Menurut Kotler ( 2002 : 183 ),  perilaku pembelian  konsumen dipengaruhi oleh:
1. Faktor budaya, yang terdiri dari :
a.  Budaya, merupakan  penentu  keinginan  dan  perilaku yang paling mendasar.
b. Sub-budaya, masing-masing budaya memiliki sub-budaya yang lebih              kecilyang memberikan lebih banyak ciri-ciri sosialisasi khusus bagi anggotanya.
c. Kelas sosial, adalah pembagian masyarakat yang relative homogen dan permanent, yang tersusun secara hierarkis dan anggotanya menganut nilai-nilai, minat dan perilaku yang sama.
2. Faktor Sosial
a.  Kelompok acuan, yaitu kelompok yang memiliki pengaruh langsung (tatap muka) atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang.
b.    Keluarga
c.   Peran dan Status , dimana peran adalah kegiatan yang diharapkan    akan dilakukan oleh seseorang dan masing-masing peran tersebut menghasilkan status.
3. Faktor Pribadi, yang terdiri dari usia dan tahap siklus hidup; pekerjaan dan lingkungan ekonomi; gaya hidup dan kepribadian dan konsep diri.
4. Faktor Psikologis, yang terdiri dari motivasi, persepsi, pembelajaran,keyakinan dan sikap.

KELOMPOK REFERENSI


Pengertian Kelompok Referensi / Kelompok Acuan.

Menurut Sumarwan (2003,p.250)  menyatakan kelompok referensi (preference group) adalah seorang individu atau sekelompok orang yang secara nyata mempengaruhi seseorang.
Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2000), kelompok referensi sebagai kelompok yang mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap sikap dan perilaku seseorang.
Pada awalnya kelompok acuan dibatasi secara sempit dan hanya mencakup kelompok-kelompok dengan siapa individu berinteraksi secara langsung (keluarga dan teman-teman akrab). Tetapi konsep ini secara berangsur-angsur telah diperluas mencakup pengaruh perorangan atau kelompok secara langsung maupun tidak langsung. Kelompok acuan tidak langsung terdiri dari orang-orang atau kelompok yang masing-masing tidak mempunyai kontak langsung, seperti para bintang film, pahlawan olahraga, pemimpin politik, tokoh TV, ataupun orang yang berpakain baik dan kelihatan menarik di sudut jalan (Schiffman, Leon G. and Kanuk, Leslie Lazar, 2000).

Jenis Kelompok Referensi

Sumarwan(2003,p.253) menggolongkan kelompok referensi berdasarkan posisi dan fungsinya.

1.     Kelompok Formal, yaitu kelompok yang memiliki struktur organisasi secara tertulis dan keanggotaannya terdaftar secara resmi. Contohnya, Serikat Pekerja Indonesia, Universitas dll.
2.     Kelompok Informal, yaitu kelompok yang tidak memiliki struktur organisasi secara tertulis dan keanggotaannya tidak terdaftar secara resmi. Contohnya, kelompok bermain futsal, kelompok arisan dll.
3.     Kelompok Aspirasi, yaitu kelompok yang memperlihatkan keinginan untuk mengikuti norma,nilai,maupun perilaku dari orang lain yang dijadikan kelompok acuan. Anggota kelompok aspirasi tidak harus menjadi anggota dalam kelompok referensinya, atau antar anggota aspirasi tidak harus menjadi anggota kelompok referensinya dan saling berkomunikasi. Contoh, anak-anak muda yang mengikuti gaya berpakaian para selebriti Korea atau Amerika.
4.     Kelompok Disosiasi, yaitu seseorang atau kelompok yang berusaha menghindari asosiasi dengan kelompok referensi.
5.      
Terdapat lima jenis kelompok acuan serta karakteristiknya (Peter, J. Paul and Olson, Jerry C., 2005; Hawkins, Del I., 2004) :
Jenis Kelompok Acuan
Perbedaan dan Karakteristik
Formal/informal
Kelompok acuan formal memiliki struktur yang dirinci dengan jelas (contoh :  kelompok kerja di kantor); sedangkan kelompok informal tidak (contoh : kelompok persahabatan/teman kuliah)
Primary/secondary
Kelompok acuan primary melibatkan seringnya interaksi langsung dan tatap muka (contoh : keluarga/sanak saudara); sementara pada kelompoksecondary, interaksi dan tatap muka tidak terlalu sering (contoh : teman yang tinggal di apartemen yang sama).
Membership
Seseorang menjadi anggota formal dari suatu kelompok acuan (contoh : keanggotaan pada kelompok pecinta alam).
Aspirational
Seseorang bercita-cita bergabung atau menandingi kelompok acuan aspirasional.
Dissociative
Seseorang berupaya menghindari atau menolak kelompok acuan disosiatif.
Sedangkan, kelompok acuan yang telah disebutkan di atas dapat memberikan tiga jenis pengaruh, antara lain :
1. Pengaruh informasional (informational influence)
Hal ini terjadi ketika seseorang/individu meniru perilaku dan pendapat dari anggota suatu kelompok acuan yang memberikan informasi yang berguna. Informasi ini dapat disajikan secara verbal maupun melalui demonstrasi langsung.
2. Pengaruh normatif (normative influence atau sering disebut juga utilitarian influence)
Pengaruh ini terjadi jika individu mengikuti ketentuan kelompok acuan dengan tujuan untuk memperoleh imbalan atau menghindari hukuman.
3. Pengaruh ekspektasi-nilai (value expressive influence)
Hal ini terjadi ketika individu merasa turut memiliki dan membentuk nilai dan norma dari suatu kelompok.

KELAS SOSIAL


Kelas sosial didefinisikan sebagai suatu strata ( lapisan ) orang-orang yang berkedudukan sama dalam kontinum ( rangkaian kesatuan ) status sosial. Definisi ini memberitahukan bahwa dalam  masyarakat terdapat orang-orang yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama memiliki kedudukan sosial yang kurang lebih sama. Mereka yang memiliki kedudukan kurang lebih sama akan berada pada suatu lapisan yang kurang lebih sama pula.
Kelas sosial didefinisikan sebagai pembagian anggota masyarakat ke dalam suatu hierarki status kelas yang berbeda sehingga para anggota setiap kelas secara relatif mempunyai status yang sama, dan para anggota kelas lainnya mempunyai status yang lebih tinggi atau lebih rendah. Kategori kelas sosial biasanya disusun dalam hierarki, yang berkisar dari status yang rendah sampai yang tinggi.
Karl Marx berpendapat bahwa kelas dalam masyarakat timbul karena adanya pembagian kerja yang memungkinkan perbedaan kekayaan, Karl Marx juga membagi masyarakat menjadi tiga golongan, yakni:
1.     Golongan kapitalis atau borjuis, adalah mereka yang menguasai tanah dan alat produksi.
2.     Golongan menengah, terdiri dari para pegawai pemerintah
3.     Golongan proletar, mereka yang tidak memiliki tanah dan alat produksi. Termasuk didalamnya adalah kaum buruh atau pekerja pabrik.kekuasaan dan prestise yang jumlahnya sangat terbatas sehingga sejumlah besar anggota masyarakat bersaing dan bahkan terlibat dalam konflik untuk memilikinya.

Sedangkan menurut Aristosteles kelas sosial atau golongan sosial ialah sekelompok manusia yang menempati lapisan sosial berdasarkan kriteria ekonomi. Aristoteles membagi masyarakat secara ekonomi menjadi kelas atau golongan:

1.     Golongan sangat kaya : merupakan kelompok terkecil dalam masyarakat. Mereka terdiri dari pengusaha, tuan tanah dan bangsawan.
2.     Golongan kaya : merupakan golongan yang cukup banyak terdapat  di dalam masyarakat. Mereka terdiri dari para pedagang, dan sebagainya.
3.     Golongan miskin : merupakan golongan terbanyak dalam masyarakat. Mereka kebanyakan rakyat biasa.

Kelas Sosial di Indonesia

Kelas sosial di Indonesia sudah ada sejak berabad-abad sebelum masehi tepatnya pada zaman peradaban Hindu-Budha dimana dikenal adanya sistem kasta, yakni Brahmana, Ksatrya, Waisya, dan Sudra. Praktek kelas sosial ini sekarang masih dipakai di Indonesia salah satunya adalah di pulau Bali yang ditunjukkan dalam pemberian nama gelar dan  kita ketahui bersama bahwa agama mayoritas penduduk di Bali adalah agama hindu.
Suku Sumba berada di Pulau Sumba yang terletak di provinsi Nusa Tenggara Timur juga masih mengenal sistem kasta atau golongan sosial. Masyarakat disini dibagi atas tiga kasta yaitu kaum kabisu atau pemukaagama, kaum maramba atau para bangsawan yang terakhir adalah ata atau rakyat jelata. Cara mereka berpakaianpun lebih ditekankan pada kepentingan dan juga status sosialnya.
Kelas sosial diciptakan dan dibentuk oleh masyarakat suatu daerah  itu dengan sendirinya. Terdapat berbagai variasi pembagian kelas sosial di dalam masyarakat tersebut berdasarkan tolak ukur atau variabel yang digunakan dalam melakukan stratifikasi kelas sosial. Masing-masing kelas sosial yang telah terbentuk memiliki karakteristik yang dicerminkan oleh para anggota yang menduduki suatu kelas sosial tertentu.
Kelas sosial ternyata mempunyai pengaruh kuat pada pemilihan jenis suatu produk. Kelas sosial merupakan tempat untuk berbagi nilai, gaya hidup, minat, dan perilaku yang kemudian membedakan perilaku konsumsi seseorang dari berbagai kelas sosial tersebut. Pemasar menggunakan variabel kelas sosial sebagai dasar segmentasi dan menetapkan target pasar mereka.
Kelas sosial yang biasanya dijadikan dasar dalam segmentasi adalah atas dasar ekonomi, yaitu penghasilan yang dimiliki seorang individu, tingkat pendidikan yang menentukan tingkat intelektualitas seseorang dalam pemilihan produk, dan gaya hidup yang dimiliki oleh individu tertentu. Secara umum, pembagian kelas sosial di Indonesia terbagi menjadi kelas bawah, kelas menengah, dan kelas atas. Basis yang digunakan dalam menentukan kelas sosial tersebut berbeda-beda sesuai dengan ukuran yang digunakan dalam suatu kelompok masyarakat.

http://blog.ub.ac.id/rullykusumawardani/2012/05/30/tugas-5-perilaku-konsumen-kelompok-acuan-kelas-sosial-dan-budaya/

Sabtu, 29 Desember 2012

EVALUASI ALTERNATIF


Evaluasi alternatif merupakan suatu proses dimana suatu alternatif pilihan dievaluasi dan dipilih oleh konsumen. Pada tahap evaluasi konsumen harus:1). Menentukan kriteria yang akan digunakan untuk menilai alternatif,2). Memutuskan alternatif mana yang akan dipertimbangkan,3). Menilai kinerja dan alternatif yang dipertimbangkan dan4). Memilih dan menerapkan kaidah keputusan untuk membuat pilihan akhir. Philip kotler mengemukakan, “Konsumen mempelajari merek-merek yang tersedia dan ciri-cirinya. Informasi ini digunakan untuk mengevaluasi semua alternatif yang ada dalam menentukan keputusan pembeliannya”(1998:170).Menurut Sutisna, “Setidak-tidaknya ada dua kriteria evaluasi alternatif. Pertama adalah manfaat yang diperoleh dengan membeli produk. Kedua, kepuasan yang diharapkan”(2001:22).Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, ketika berbagai alternatif telah diperoleh, konsumen melakukan evaluasi alternatif. Evaluasi altenatif tersebut, dalam keberadaanya ditentukan oleh keterlibatan konsumen dengan produk yang akan dibelinya.Alternatif membeli atau tidak membeli produk (merk) tertentu, dipengaruhi oleh pertimbangan atribut produk. Yaitu meliputi: manfaat, kepentingan, image, dan fungsi yang diharapkan. Pertimbangan tersebut seringkali diperbandingan antara manfaat yang akan diperoleh dengan biaya yang akan dikeluarkan untuk memperoleh atau setelah membeli barang tersebut. Mempertimbangkan untuk membeli mobil kedua adalah pilihan antara keleluasaan pemakaian dan tambahan investasi maupun biaya perawatan.Kriteria yang digunakan konsumen selama pengambilan keputusan akan tergantung pada beberapa faktor, diantaranya: 1) Pengaruh situasi,2) Kesamaan alternatif-alternatif pilihan,3) Motivasi,4) Keterlibatan,5) Pengetahuan

http://gultomhans.wordpress.com/2012/11/11/evaluasi-alternatif-sebelum-pembelian/

Rabu, 05 Desember 2012

Gaya Hidup


Istilah gaya hidup (lifestyle) sekarang ini kabur. Sementara istilah ini memiliki arti
sosiologis yang lebih terbatas dengan merujuk pada gaya hidup yang khas dari berbagai
kelompok status tertentu, dalam budaya konsumen kontemporer istilah ini
mengkonotasikan individualitas, ekspresi diri, serta kesadaran diri yang semu. Tubuh,
busana, bicara, hiburan saat waktu luang, pilihan makanan dan minuman, rumah,
kendaraan, dan pilihan hiburan, dan seterusnya di pandang sebagai indikator dari
individualitas selera serta rasa gaya dari pemilik atau konsumen

KEPRIBADIAN


personality berasal dari kata latin “persona” yang berarti topeng atau kedok, yaitu tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan perilaku, watak, atau pribadi seseorang. Bagi bangsa Roma, “persona” berarti bagaimana seseorang tampak pada orang lain.

Menurut Agus Sujanto dkk (2004), menyatakan bahwa kepribadian adalah suatu totalitas psikofisis yang kompleks dari individu, sehingga nampak dalam tingkah lakunya yang unik.

Pengertian Kepribadian (Personality)

Sedangkan personality menurut Kartini Kartono dan Dali Gulo dalam Sjarkawim (2006) adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain; integrasi karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah laku, minat, pendiriran, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang; segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana diketahui oleh orang lain.
Allport juga mendefinisikan personality sebagai susunan sistem-sistem psikofisik yang dinamis dalam diri individu, yang menentukan penyesuaian yang unik terhadap lingkungan. Sistem psikofisik yang dimaksud Allport meliputi kebiasaan, sikap, nilai, keyakinan, keadaan emosional, perasaan dan motif yang bersifat psikologis tetapi mempunyai dasar fisik dalam kelenjar, saraf, dan keadaan fisik anak secara umum.

http://belajarpsikologi.com/pengertian-kepribadian/

KONSEP DIRI

 Pengertian Konsep Diri
Konsep diri merupakan konsep dasar yang perlu diketahui perawat untuk mengerti perilaku dan pandangan klien terhadap dirinya, masalahnya sertalingkungannya. Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus dapat meyakinibahwa klien adalah mahluk bio-psiko-sosio-spiritual yang uth dan unik sebagai satukesatuan dalam berinteraksi terhadap lingkungannya yang diperoleh melalui pengalamanyang unik dengan dirinya sendiri dan orang lain.Konsep diri juga merupakan ide, pikiran, perasaan, kepercayaan dan pendirianyang diketahui oleh individu dalam berhubungan dengan orang lain. Konsep diriberkembang secara bertahap dimulai dari bayi dapat mengenali dan membedakan oranglain. Proses yang berkesinambungan dari perkembangan konsep diri diluspengaruhi olehpengalaman interpersonal dal kultural yang memberikan perasaan positif, memahamikompetensi pada area yang bernilai bagi individu dan dipelajari melalui akumulasikontak-kontak sosial dan pengalaman dengan orang lain. Dalam merencanakan asuhankeperawatan yang berkualitas perawat dapat menganalisis respon individu terhadapstimulus atau stesor dari berbagai komponen konsep diri yaitu citra tubuh, idea diri, hargadiri, identitas dan peran. Dalam memberikan asuhan keperawatan ada lima prinsip yangharus diperhatikan yaitu memperluas kesadaran diri, mengagali sumber-sumber diri,menetapkan tujuan yang realistik serta bertanggung jawab terhadap tindakan.

(Suliswati,dkk,2005)Menurut para ahli :1. Stuart & Sundeen,1998 Konsep diri merupakan suatu pikiran, keyakinan, dankepercayaan yang membuat seseorang mengetahui siapa dirinya dan memengaruhihubungannya dengan orang lain.2. Sunaryo, 2004 Konsep diri merupakan Cara individu melihat pribadinya secarautuh,menyangkut aspek fisik,emosi, intelektual,sosial dan spritual, termasuk didalamnya persepsi individu tentang sifat dan potensi yang dimilikinya, interaksinyadengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman danobjek tertentu, serta tujuan, harapan, dan keinginan individu itu sendiri

http://www.scribd.com/doc/98046816/MAKALAH-KONSEP-DIRI
 3

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Konsep Diri

Konsep diri merupakan konsep dasar yang perlu diketahui perawat untuk mengerti perilaku dan pandangan klien terhadap dirinya, masalahnya sertalingkungannya. Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus dapat meyakinibahwa klien adalah mahluk bio-psiko-sosio-spiritual yang uth dan unik sebagai satukesatuan dalam berinteraksi terhadap lingkungannya yang diperoleh melalui pengalamanyang unik dengan dirinya sendiri dan orang lain.Konsep diri juga merupakan ide, pikiran, perasaan, kepercayaan dan pendirianyang diketahui oleh individu dalam berhubungan dengan orang lain. Konsep diriberkembang secara bertahap dimulai dari bayi dapat mengenali dan membedakan oranglain. Proses yang berkesinambungan dari perkembangan konsep diri diluspengaruhi olehpengalaman interpersonal dal kultural yang memberikan perasaan positif, memahamikompetensi pada area yang bernilai bagi individu dan dipelajari melalui akumulasikontak-kontak sosial dan pengalaman dengan orang lain. Dalam merencanakan asuhankeperawatan yang berkualitas perawat dapat menganalisis respon individu terhadapstimulus atau stesor dari berbagai komponen konsep diri yaitu citra tubuh, idea diri, hargadiri, identitas dan peran. Dalam memberikan asuhan keperawatan ada lima prinsip yangharus diperhatikan yaitu memperluas kesadaran diri, mengagali sumber-sumber diri,menetapkan tujuan yang realistik serta bertanggung jawab terhadap tindakan.


(Suliswati,dkk,2005)Menurut para ahli :1. Stuart & Sundeen,1998 Konsep diri merupakan suatu pikiran, keyakinan, dankepercayaan yang membuat seseorang mengetahui siapa dirinya dan memengaruhihubungannya dengan orang lain.2. Sunaryo, 2004 Konsep diri merupakan Cara individu melihat pribadinya secarautuh,menyangkut aspek fisik,emosi, intelektual,sosial dan spritual, termasuk didalamnya persepsi individu tentang sifat dan potensi yang dimilikinya, interaksinyadengan orang lain dan lingkungan, nilai-nilai yang berkaitan dengan pengalaman danobjek tertentu, serta tujuan, harapan, dan keinginan individu itu sendiri